Sejarah Jemaat Hok Im Tong

Jemaat Khusus GPM HOK IM TONG Ambon yang mayoritas anggota jemaatnya berasal dari etnis Tionghoa, mempunyai sejarah panjang yang dimulai sekitar tahun 1930 dengan nama “Djoem’at Hok Im Tong, Majelis Injili Tionghoa” atau kemudian menjadi “Djama’at Hok Im Tong, Gereja Protestan Tionghoa”. Hok Im Tong artinya: rumah kabar kesukaan (rumah injil).

Jemaat Hok Im Tong adalah sebuah jemaat yang terbentuk dari hasil pekabaran Injil dan pelayanan dari orang-orang Kristen Toinghoa, para penginjil dan para pendeta, baik yang berasal dari Tiongkok dan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti : Jakarta, Surabaya, Malang, dan lain-lain, maupun dari Maluku sendiri (GPI/GPM). Orang-orang Kristen Tionghoa yang terlibat secara langsung dalam proses pekabaran Injil dan pendirian jemaat ini antara lain Wah Song (Kong A Yap), Nio Kie Tjing, Wah Fong (Kong A Sui), Sie To Tjing, Tjing A Beng. Tahun 1931, Pendeta Thiang Tjin Tji ditugaskan sebagai Penghentar Jemaat yang bekerja sama dengan Pendeta Emeritus. A. Matatula, Bpk. J. Pattiselano, Bapak Williams Daniel, Bapak N. Huwae, dll. Tauhn 1936, jemaat sudah mempunyai pengurus Jemaat (Majelis Jemaat) dan peraturan-peraturan khusus jemaat serta berada di bawah perlindungan dan pelayanan GPM.

Dalam perayaan hari-hari raya gerejawi, ibadah jemaat sering dihadiri oleh 2 orang Majelis Jemat Bandar Ambon. Saat perang dunia kedua, anggota jemaat Hok Im Tong banyak melarikan diri dan terpencar-pencar. Dalam situasi seperti itu, Pendeta S. Saimima tetap setia melayani, mengunjungi dan menghibur mereka, sekalipun harus menempuh jarak yang jauh karena tempat tinggal mereka berpencar.

Sesudah tahun 1945, angota-anggota jemaat Hok Im Tong mulai kembali ke rumah mereka masing-masing, berkumpul dan beribadah bersama di rumah sederhana yang disediakan Bapak Liem Tjong Kie dan keluarganya. Tahun 1947, Pendeta S. Saimima meninggal dunia, kemudian Badan Pekerja Harian Sinode GPM mengangkat Pendeta J. Papilaya sebagai penggantinya. Beliau bertugas selama 6 tahun, setelah itu digantikan Pendeta M. Latumahina yang bekerja dan melayani dengan baik. Namun, setelah 8 bulan melayani, beliau dipindahtugaskan ke Saparua.

Sesudah peristiwa G30 S pada tahun 1965, timbul situasi politik yang melarang segala bentuk budaya dan bahasa Tionghoa di Indonesia. Karena itulah, Jemaat Hok Im Tong mengubah namanya menjadi Jemaat Bethlehem pada tahun 1968. Tahun 1962-1970, didatangkan pendeta dan penginjil dari luar Ambon, antara lain Pendeta Thio Kiong Djien (Lukas Theopilus) dari GKI Jatim, Pendeta Oei (Lewi), Pendeta Tju, Pendeta Nn. Yau, Pendeta Hengky Tjam (1971-1978) dari Gereja Kristen Kalam Kudus.

Dengan terbentuknya Ibadah Malam yang berbahasa Mandarin dan Ibadah Pagi yang berbahasa Indonesia, maka terjadi pula pemisahan antar Pengurus Ibadah Malam yang berorientasi pada Gereja Kristen Kalam Kudus, dengan Majelis Jemaat Ibadah Pagi yang berorientasi pada GPM. Ketegangan dan pemisahan ini berlanjut terus sampai dengan keluarnya sejumlah anggota Jemaat Bethlehem dan mendirikan Gereja Kristen Kalam Kudus pada tahun 1978. Mereka keluar karena tidak setuju dengan adanya keputusan rapat bersama BPH Sinode GPM dan Majelis Jemaat Bethlehem untuk menggabungkan Pengurus Ibadah Malam dengan majelis Jemaat Ibadah Pagi, menjadi satu Majelis Jemaat Bethlehem. Situasi konflik ini dimungkinkan juga karena kurang jelasnya status Jemaat Bethlehem sebagai jemaat GPM atau sebagai jemaat dari denominasi lain. Maka surat Majelis Jemaat No.9/MJ/79 pada tanggal 16 November 1979, Majelis Jemaat Bethlehem meminta agar BPH Sinode menetapkan status Jemaat Bethlehem dalam struktur organisasi GPM. Menanggapi surat ini, maka BPH Sinode menetapkan status Jemaat Bethlehem sebagai Jemaat Khusus dalam Gereja Protestan Maluku pada tanggal 29 Maret 1980 dengan SK No. 30/IX/Org. Dengan demikian, Jemaat Bethlehem menjadi Jemaat GPM dengan kekhususannya pada etnis dan budaya Tionghoa serta secara struktural berada langsung di bawah Sinode GPM, namun secara fungsional turut berpartisipasi dengan Kalis GPM Kota Ambon.

Sebelum itu pada 17 Januari 1970 Majelis Jemaat Bethlehem pernah juga menyampaikan surat No.2/KPTS/70 kepada BPH Sinode GPM untuk menyerahkan jemaat dan pimpinannya kepada BPH Sinode GPM. Hal ini bukan hanya karena situasib politik, tetapi juga ketegangan yang berlarut-larut di dalam Jemaat. Karena itu, sejak tahun 1970 hingga sekarang, Jemaat Bethlehem dipimpin oleh pendeta-pendeta dari GPM dengan SK BPH Sinode.

Pada 31 Maret 1975, dibongkar gedung gereja lama dan dibangun sebuah gedung gereja baru atas prakarsa Hengky Theodorus serta rekan-rekan. Kemudian difungsikan pada tahun 1977. Pada tahun 1997-1998, atas partisipasi jemaat dibangun pula sebuah gedung serbaguna dan dua buah pastori di Jalan Setia Budi. Gedung Serbaguna inilah yng dijadikan tempat Ibadah Jemaat Berthlehem sejak pecahnya konflik social di Maluku tahun 1999 hingga tahun 2004.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *